Kembali ke Berita
Arsitektur Biophilic
Ankitha Gattupalli 22 October 2025

Istilah “biophilia” secara wajar memunculkan bayangan tentang bangunan yang dipenuhi oleh vegetasi dan menyatu dengan lanskap alam. Dalam wacana arsitektur modern, konsep ini sering dikaitkan dengan penerapan elemen hijau di lingkungan terbangun. Namun, pendekatan semacam itu sebenarnya hanya mencakup sebagian kecil dari cakupan sejati desain biophilic.

Tidak dapat disangkal bahwa alam memainkan peran sentral dalam desain biophilic. Namun, pengaruhnya juga meluas pada strategi-strategi yang sering diabaikan, seperti konfigurasi ruang dan pola lingkungan. Biophilia yang “tidak terlihat” ini sering kali memberikan dampak positif terhadap kesehatan penghuni, bekerja secara halus namun efektif di balik permukaan.
Biophilic Architecture without Plants: Invisible Design for Wellbeing - Image 2 of 9Biophilic Architecture without Plants: Invisible Design for Wellbeing - Image 3 of 9Biophilic Architecture without Plants: Invisible Design for Wellbeing - Image 4 of 9Biophilic Architecture without Plants: Invisible Design for Wellbeing - Image 5 of 9Biophilic Architecture without Plants: Invisible Design for Wellbeing - More Images+ 4

Interpretasi modern tampaknya telah mengaburkan makna asli dari desain biophilic. Psikolog sosial Erich Fromm pertama kali memopulerkan konsep ini pada tahun 1964 untuk menggambarkan “cinta terhadap kehidupan” — sesuatu yang ia lihat sebagai ciri khas dari semua makhluk hidup dan perilaku alaminya.

Pada tahun 1980-an, di tengah kesadaran sosial terhadap urbanisasi massal dan terlepasnya manusia dari dunia alami, biolog Edward Wilson memperluas teori tersebut dengan menyoroti hubungan emosional manusia yang melekat secara alami terhadap alam.

 
Save this picture!
Biophilic Architecture without Plants: Invisible Design for Wellbeing - Image 3 of 9
Audain Art Museum / Patkau Architects. Image © James Dow

Ketergantungan Evolusioner Kita pada Alam: Dasar dari Desain Biophilic dalam Arsitektur

Ketergantungan manusia secara evolusioner terhadap alam merupakan landasan utama dari desain biophilic dalam arsitektur. Meskipun desain ini sering menonjolkan manfaat terapeutik dari keberadaan tanaman dalam ruang, inti dari biophilia sebenarnya adalah kerangka hubungan antara manusia dan alam. Konsep ini mengakui bahwa manusia berevolusi di dalam lingkungan alami dan hingga kini masih merespons secara positif terhadap elemen dan pola alam yang dulunya menjamin kelangsungan hidup.

 
Save this picture!
Biophilic Architecture without Plants: Invisible Design for Wellbeing - Image 5 of 9
TECLA Technology and Clay 3D Printed House / Mario Cucinella Architects. Image © Iago Corazza

Desain Biophilic: Prinsip dan Penerapan

Desain biophilic menerjemahkan preferensi evolusioner tersebut ke dalam penerapan arsitektur.
Kerangka teori yang dikembangkan oleh Stephen Kellert membagi pengalaman biophilic menjadi tiga domain utama:

  1. Pengalaman langsung terhadap alam,

  2. Pengalaman tidak langsung terhadap alam, dan

  3. Pengalaman terhadap ruang dan tempat.

Pengalaman langsung biasanya mencakup elemen-elemen alami secara harfiah seperti tanaman dan air.
Dua kategori terakhir mewakili pendekatan desain yang lebih halus dan sering kali tidak kasat mata, namun tetap mampu mempengaruhi psikologi dan fisiologi manusia.

 

 
Save this picture!
Biophilic Architecture without Plants: Invisible Design for Wellbeing - Image 2 of 9
Kindergarten in Guastalla / Mario Cucinella Architects. Image © Moreno Maggi

Pengalaman Tidak Langsung terhadap Alam

Pengalaman tidak langsung mencakup representasi dari elemen alami, seperti karya seni bertema lanskap, material alami seperti kayu dan batu, atau pola dekoratif yang terinspirasi dari bentuk-bentuk alam.
Elemen-elemen ini dapat mengaktifkan respons psikologis serupa dengan interaksi langsung terhadap alam, tanpa memerlukan perawatan berkelanjutan seperti halnya taman atau kebun.

Selain itu, penting juga untuk mencerminkan logika alam — siklus dan urutannya — dalam desain. Hal ini bisa diwujudkan melalui perancangan pencahayaan yang berubah seiring waktu atau keberagaman tekstur yang menstimulasi indera.

 
 
Save this picture!
Biophilic Architecture without Plants: Invisible Design for Wellbeing - Image 4 of 9
Towerhouse / Marlon Blackwell Architect. Image © Marlon Blackwell Architect

Dari “Desain Alam dalam Ruang” ke “Desain Ruang yang Alami”

Alih-alih sekadar menempatkan unsur alam ke dalam ruang, prinsip biophilic justru mengubah perspektif menuju “mendesain sifat alami dari ruang itu sendiri”.
Dengan fokus pada konfigurasi ruang yang mencerminkan lingkungan yang secara evolusioner disukai manusia, prinsip “desain tak terlihat” ini mengakomodasi kecenderungan alami manusia terhadap pola ruang yang mendukung kesejahteraan naluriah.

Penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip ini dapat mengurangi stres dan meningkatkan kinerja kognitif, bahkan dalam lingkungan tanpa elemen alam yang nyata.

 
Save this picture!
Biophilic Architecture without Plants: Invisible Design for Wellbeing - Image 9 of 9
TreeHouse / LEVER Architecture. Image © Lara Swimmer

Perjalanan Pengguna dalam Ruang

Penerapan desain biophilic mendorong arsitek untuk mempertimbangkan pengalaman pengguna secara menyeluruh — mulai dari titik pandang, jalur sirkulasi, hingga perubahan volume ruang.
Bahkan dalam ruang terbatas atau anggaran kecil, prinsip biophilia tak terlihat tetap bisa diterapkan melalui manipulasi tinggi rendahnya ruang, garis pandang, dan jalur pergerakan.

Implementasi terbaik adalah menyeimbangkan keempat prinsip:
menumbuhkan ketegangan antara prospect dan refuge, misteri dan kejelasan, serta risiko yang dirasakan dan keamanan nyata.

 
Save this picture!
Biophilic Architecture without Plants: Invisible Design for Wellbeing - Image 8 of 9
365° House / A.H Architects. Image © Nacasa & Partners

Melampaui Sekadar “Greenwashing”

Tanaman memang dapat memperkaya ruang biophilic, tetapi berfokus hanya pada kehijauan berarti kehilangan potensi lebih dalam dari desain biophilic itu sendiri.
Menambahkan vegetasi tanpa memahami hubungan evolusioner manusia terhadap ruang merupakan contoh nyata greenwashing.

Dengan menggabungkan strategi lain dari “perangkat desain biophilic”, ruang dapat berfungsi sebagai ekosistem yang meningkatkan kesejahteraan psikologis.
Seperti halnya habitat alami yang bekerja secara holistik, ruang biophilic harus mengintegrasikan berbagai strategi desain untuk memaksimalkan kesejahteraan manusia.

 
Save this picture!
Biophilic Architecture without Plants: Invisible Design for Wellbeing - Image 7 of 9
House at Indian Point / FBM Architecture | Interior Design | Planning. Image © Julian Parkinson

Masa Depan Desain Biophilic

Organisasi seperti International Living Future Institute dan Biophilic Institute berperan dalam pendidikan dan pengembangan pemahaman penuh tentang hubungan manusia–alam.
Melalui kegiatan seperti Biophilic Leadership Summit, para pemimpin pemikiran global berkumpul tiap tahun untuk mendorong eksplorasi yang lebih mendalam di luar sekadar aplikasi permukaan.
Demikian pula, Living Future Conference mengeksplorasi peran desain regeneratif dan biophilic dalam menghadapi tantangan lingkungan dan sosial global.

Gerakan desain biophilic kini menekankan bahwa penerapan praktisnya membutuhkan pengetahuan lintas disiplin, meliputi psikologi, biologi, dan teori arsitektur.
Alih-alih sekadar meniru formula atau menambahkan elemen alam secara simbolis, arsitek perlu memahami prinsip dasarnya dan menyesuaikan penerapannya dengan konteks, kebutuhan pengguna, serta tujuan kinerja ruang.


Desain yang Berbasis Bukti

Dengan fokus pada hasil nyata seperti penurunan stres, peningkatan kinerja kognitif, dan penguatan kreativitas, desain biophilic kini melampaui sekadar estetika dan menyentuh kebutuhan manusia yang paling mendasar.

Pendekatan berbasis bukti menunjukkan bahwa meskipun tanaman berkontribusi terhadap lingkungan biophilic, kualitas ruang tak terlihat — seperti prospect, refuge, misteri, dan risiko terkontrol — sering kali memiliki pengaruh yang sama besar atau bahkan lebih signifikan terhadap pengalaman manusia.

 
Save this picture!
Biophilic Architecture without Plants: Invisible Design for Wellbeing - Image 6 of 9
Solar Greenhouse Prototype / IAAC. Image © Adrià Goula

Tentang Artikel Ini

Artikel ini merupakan bagian dari topik “Building Wellbeing: Designing Spaces for Healing” dari ArchDaily, yang dipersembahkan bersama Hushoffice.
Melalui lini pod kelas A, Hushoffice membantu menciptakan ruang kerja dengan keseimbangan akustik, mendukung kolaborasi dan fokus, meningkatkan kesejahteraan karyawan, serta mengakomodasi kebutuhan staf neurodivergen dan penyandang disabilitas motorik.




Berita Lainnya
Want to collaborate with us or have a questions? id
MARI BICARA
Alamat Kantor
Jalan pantai indah selatan 1 ruko elang laut
boulevard blok b nomor 52. Penjaringan,
Jakarta Utara 14470
Kontak
+62 21 29219168
6287808780084
Proyek
Harga
Tentang Kami
Berita
Kontak
kabindo.com
PT. Karya Bersama Indobangun
© 2026